Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers

Monday, June 30, 2008

Daffa Panjat Tebing (balon)

Daffa 3 Tahun 7 Bulan



Hari minggu lalu di kompleks kami, khususnya di kantor pemasaran diadakan kegiatan penjualan tanaman, diskon durian montong dan juga ada tempat permainan anak-anak.

Khusus tempat permainan anak-anak ini merupakan wahana yang diisi udara dan membentuk perosotan dan panjat tebing setinggi kira-kira 10 meter.

Sudah sejak hari sabtu Daffa ingin bermain ke tempat tersebut dan niatnya kesampaian juga di hari Minggu. Meski kamarnya sedang di "hias" dengan wallpaper tapi Daffa tetap ngotot mengajak bapaknya ke tempat permainan tersebut. Daffa tidak terlalu tertarik dengan wallpaper dan pikirannya hanya permainan perosotan dan panjat tebing saja.

Sampai di sana kami harus membayar rp.10.000 sebagai karcis masuk dan sudah banyak anak-anak lainnya yang bermain. Begitu main, Daffa langsung berjingkrak-jingkrak kesenangan. Kebetulan wahana tersebut diisi udara sehingga anak-anak bisa berlarian sambil melompat-lompat diatasnya. Bapak hanya mengawasi dari luar wahana.

Tidak lama dia bermain lompat-lompatan dan perosotan kecil, Daffa tertarik dengan anak-anak yang lebih besar yang bermain panjat tebing dan setelah sampai diatas meluncur turun melalui perosotan setinggi kira-kira 10 meter tersebut.

Untuk bermain perosotan tersebut, anak-anak akan dibantu oleh sorang petugas untuk memasang perlengkapan pengaman serta dibantu ditarik oleh sang petugas untuk naik keatas selain dengan tenaga sang anak sendiri saat meniti di tonjolan-tonjolan yang mirip batu.

Karena Daffa berdiri terus di samping anak-anak yang akan naik, sang petugas kemudian memberi giliran kepada Daffa untuk naik dengan mencoba memasang perlengkapan keamanan tersebut ke tubuh Daffa. Bapak lalu meminta kepada petugas untuk tidak memberi ijin kepada Daffa karena bapak menganggap umur Daffa belum cukup. Sang petugas kemudian membatalkannya dan mengatakan bahwa dia tidak tahu bahwa Daffa belum cukup umur karena tubuhnya terlihat cukup besar.

Mendengar hal tersebut, Daffa menagis sedih dan berlari menjauh sambil terisak mengatakan bahwa dia sudah besar. Daffa ingin mengatakan kepada bapak bahwa dia cukup mampu untuk melakukan hal tersebut. Bapak lalu berusaha membujuknya dan mengatakan bahwa Daffa masih terlalu kecil untuk bermain panjat tebing. Seorang ibu yang melihat dan mendengar kami kemudian berkata," Coba aja dulu pak, kan kasihan anaknya".

Bapak lalu menyadari kesalahan bapak karena meremehkan kemampuan Daffa. Bapak lalu memberi kesempatan dan mengijinkan Daffa untuk mencoba panjat tebing tersebut meski tahu Daffa tidak akan bisa tapi setidaknya dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya akan melatihnya untuk percaya pada diri sendiri.

petugas berusaha membantu daffa naik :-))

Begitu giliran Daffa, terlihat Daffa berusaha untuk mengangkat kakinya untuk menapak di tonjolan-tonjolan yang dibuat membentuk batu pijakan tapi tetap tidak bisa dan harus dibantu oleh sang petugas dengan susah payah. Setelah beberapa saat, melihat makin banyak anak-anak yang lebih besar mengantri giliran, akhirnya bapak meminta sang petugas dan Daffa untuk memberikan waktunya kepada anak-anak lainnya. Daffa terlihat kecewa dan tetap yakin bahwa dia akan bisa memanjat sampai ke atas. Saya melihat bahwa Daffa memiliki kekerasan hati dimana bila ada sesuatu yang diinginkannya dia akan berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya.

Daffa kemudian berbalik arah ke tempat perosotan yang 10 meter dan naik keatas lewat bawah sambil merangkak keatas. Sampai ketinggian sekitar 7 meter, Daffa kemudian meluncur turun di perosotoan tersebut. Dibawah Daffa mencari bapak dan berteriak-teriak bahwa dia sudah meluncur turun dari perosotan yang tinggi tersebut. Dia ingin mengatakan bahwa dia berhasil meluncur dari tempat yang tinggi tersebut meski tidak bisa lewat jalur panjat tebing.

Ternyata keinginan Daffa dari hari sebelumnya adalah untuk bisa memanjat melalui panjat tebing tersebut dan turun melalui perosotan yang tinggi yang sudah terlihat dari jalan raya ketinggiannya. Begitu keinginannya tersebut tercapai, dengan mudah bapak bisa mengajaknya pulang tanpa ada perlawanan seperti biasanya saat bermain di tempat lain :-)

Menyampul Buku

Daffa 3 tahun 7 Bulan

Sejak kecil bapak memiliki hobi membaca meski lebih spesifik lagi bacaan yang diminati adalah sejarah. Sampai saat ini, buku-buku koleksi bapak ada sekitar 300 buah dan kesemuanya sayangnya tidak bersampul. Akibatnya, banyak yang sampul depannya menjadi rusak, sobek ataupun kotor kena air maupun kotoran.

Suatu ketika, ada teman bapak yang meminjam buku bapak dan ketika dikembalikan ternyata beliau berbaik hati untuk menyampul buku tersebut dengan sampul plastik. Sejak itu bapak berniat untuk menyampul semua buku-buku koleksi bapak agar enak dilihat, dibaca dan awet pula. Niat itu sempat terhenti karena belum memiliki lemari buku ataupun rak buku sehingga bapak malas melanjutkan niat menyampul buku tersebut karena ujung-ujungnya sang buku hanya sampai di kardus saja karena tidak memiliki tempat, sampai akhirnya....kami ada rejeki dan membeli rak tv yang bisa digunakan pula untuk tempat buku.

Hari sabtu dan minggu lalu, bapak sibuk menyampul buku dengan bahan-bahan yang dibeli, lagi-lagi di Pasar Pagi yang murah. Daffa tidak mau kalah dengan bapak dan berkata kepada bapak," Pak...sini Daffa bantu".




Berkat "bantuan" Daffa, beberapa calon sampul buku menjadi tidak dapat digunakan karena digunting kian kemari tidak berbentuk :-)

Semoga saat besar nanti, Daffa menjadi anak yang selalu ringan tangan membantu orang lain yang kesulitan.

Wednesday, June 25, 2008

Building Block

Daffa 3 Tahun 7 Bulan


Sudah hampir seminggu ini Daffa senang sekali bermain ke tetangga di sebelah rumah. Meski anak tetangga yang bernama Febrie tersebut sudah sekolah di SD, tapi untungnya dia masih mau bermain bersama Daffa.

Setelah kami perhatikan ternyata permainan yang paling mengasyikkan Daffa di rumah tetangga tersebut adalah adanya permainan sejenis lego yang berbentuk rumah-rumahan dan perabotannya serta beberapa boneka sejenis Barbie. Maklumlah karena Febrie seorang cewek. Dengan permainan tersebut Daffa sibuk menyusun-nyusun membentuk rumah dan sebagainya dan bercerita sendiri seakan dia sutradaranya dengan tokoh-tokohnya adalah rumah, boneka-boneka barbie, boneka binatang, meja kursi , dll.

Agar tidak merepotkan tetangga karena harus mengawasi Daffa di rumahnya sementara asisten kami mengurus rumah, akhirnya bapak membelikan permainan sejenis tapi bukan lego (mahal sih..) meski tidak sama persis di Pasar Pagi berupa building block. Lumayan juga karena harga bisa 40% lebih murah dibanding di pasaran.

Sunday, June 22, 2008

Daffa Mengamuk/Marah

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Melihat Daffa mengamuk merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Seingat bapak, Daffa mengamuk/marah bisa dihitung dengan jari dan kejadian terakhir adalah ketika bapak sampai lupa diri dan mencubit serta "memukul" paha Daffa ketika Daffa "berulah" saat mandi. Kajadian itu kalau nggak salah ketika Daffa berumur 2 tahunan. Kejadian itu sangat disesali oleh bapak dan berharap tidak akan terjadi lagi.

Sabtu lalu, kami berlima mengantar oma ke rumah muning (paman daffa) di ciputat dan dilanjutkan dengan berbelanja ke Carrefour lebak bulus. Kami berangkat sejak pukul 10 pagi dan sampai kembali di rumah sekitar jam 6 sore.

Sampai di rumah, ketika sedang menurunkan belanjaan dari mobil, Daffa langsung berlari ke rumah tetangga untuk bermain. Mungkin dia melihat temannya yakni kak Febrie (7 thn) sedang ada di rumahnya dan Daffa ingin bermain bersamanya.

Karena waktu sudah sore menjelang malam/magrib, Daffa belum mandi, kami juga ingin cepat-cepat mandi/shalat maka kami "memaksa" Daffa untuk pulang kerumah dengan berbagai cara. Akibatnya Daffa "mengamuk" karena masih ingin bermain. Barang belanjaan yang ada dirumah di lempar kesana-kemari. Kami berusaha membujuk dan mengalihkan perhatiannya ke hal lainnya, tapi sepertinya Daffa sudah terlanjur kesal sehingga susah dihentikan.

Biasanya kami bisa mengalihkan perhatiannya ke hal lainnya, tapi mungkin karena kami semua sudah capek maka hal tersebut gagal. Akhirnya kami bisa membujuknya untuk mandi. Tapi selesai mandi Daffa masih ingin bermain air dengan membawa ember berisi air ke ruang tengah yang sudah tentu kami larang. Bapak lalu membawa ember tersebut keruang cuci dibelakang, tapi Daffa mengejarnya sambil menangis dan berguling-guling di ruang cuci belakang sampai baju kaos dan celananya yang baru dipakai menjadi basah kembali. Daffa tidak mau diangkat ke rumah.

Bapak sempat terpancing emosi dan membentak Daffa serta mengangkatnya dengan paksa ke ruang tengah. Ibu lalu menenangkan Daffa dan membujuknya untuk mengganti pakaiannya yang basah.

Sehabis bapak sholat, keadaan sepertinya sudah reda karena Daffa sudah berganti pakaian dan terlihat tenang. Tiba-tiba Daffa meminta untuk bermain game Prince Of Persia. Bapak menolaknya dan akibatnya Daffa marah lagi dengan berlari ke kamar, membuang semua bantal dan guling serta selimut ke bawah tempat tidur. Bapak lalu ikut ke kamar dan melihatnya sambil berdiam diri. Saat Daffa mengajak bapak ngobrol, bapak diam saja dan menunjukkan muka sedih. Tiba-tiba Daffa berkata," Pak...Daffa kan sudah jadi anak baik, kok bapak diam aja?". "Bapak masih marah sama Daffa", kata bapak. "Pak, Daffa sudah jadi anak baik pak". Bapak lalu meraih Daffa dan menciumnya. Kemudian bapak berkata kepada Daffa," Daffa kalau Daffa marah dan buang-buang barang, bapak dan ibu kan jadi sedih. Lain kali Daffa jangan begitu ya nak..". Daffa hanya menjawab bahwa dia ingin bermain dengan kak Febrie. Kemudian bapak menjelaskan alasan-alasan kami tidak mengijinkannya bermain pada saat itu.

Kami lalu mencoba introspeksi diri dengan kejadian ini. Mencari penyebab dan solusi bila kedepan ada kejadian seperti ini lagi. Bisa jadi Daffa merasa lelah tapi tidak bisa mengungkapkan hal tersebut sehingga ekspresinya adalah "mengamuk" dengan pemicu yang sepele. Kami juga harus terus belajar mencari cara untuk mengalihkan perhatiannya ke hal ataupun permainan lain sehingga bisa terlupa dengan keinginan awalnya. Tapi, cara yang sebelumnya manjur belum tentu akan manjur kembali di kali lain. Kami juga harus lebih lihai mengelola emosi disaat menghadapi keadaan seperti ini lagi. Terkadang disaat kami emosi, maka suasana itu akan menular ke Daffa yang juga makin tidak terkendali.


Cerita Daffa ( Kisah CingCangKeling)

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Si Cingcangkeling itu kan lagi cuci tangan, terus airnya mau dimatiin, nggak bisa !!, keluar terus airnya. Terus nanya ke ibunya, "bu..kok airnya nggak bisa dimatiin, coba ibu lihat". Sama ibunya terus diputer, mati airnya. Terus Cingcangkeling hidupin lampu..tik..tik..tikk, terus hidupin ac tik..tik..tik..nggak bisa. Dia tanya ke tukang bakso, "tukang bakso tadi kamu ada matiin ac-ku nggak?...aku mau tidur", katanya. "nggak katanya". Terus pergi ke tukang ac, "tukang ac kamu tadi ada matiiin ac nggak?". "iya..", kata tukang ac.

Terus lampunya mati tuh. "Hai tukang Lanny, tadi kamu ada matiin lampu saya nggak?". "nggak..". Terus dia tanya ke tukang lemari, "tukang lemari tadi kamu ada matiin lampu nggak?". "nggak". Terus pergi ke tukang kaca, "tukang kaca tadi kamu ada matiin lampu nggak?". "Iya..", kata tukang kaca.... Habis deh ceritanya.

Cat: Cerita direkam di HP lalu ditulis ulang apa adanya oleh bapak :-)

Kegiatan Daffa (18-20 Juni 2008 )

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Sejak hari rabu sampai jum'at bapak cuti sehingga bisa menemani Daffa dirumah. Saat hari rabu, Daffa ada acara outing dengan teman-teman playgroupnya di Taman LaluLintas Cibubur. Sore hari saat bermain dengan teman dirumah, Daffa jatuh dan menderita luka lumayan juga karena berlari-lari. Setelah kejadian bapak dan ibu menasehati Daffa untuk berhati-hati saat bermain agar tidak jatuh lagi. Jawab daffa : "daffa sudah hati-hati tapi daffa nggak lihat jalan aspal jadi jatuh pak".


Hari kamis dan jum'at karena kakinya masih sakit Daffa hanya bermain di rumah saja. Kegiatan yang dilakukan beragam seperti bermain game Prince of Persia, bermain mobil-mobilan di track baru yang dibeli setelah pecahin celengan, bermain plastisin, menggambar dan menulis di papan tulisnya, dan juga hari jum'at bermain dengan tetangga. Karena tetangga Daffa seorang anak wanita makanya mainnya rumah-rumahan dan boneka serta masak-memasak...



Membentuk huruf dengan Plastisin

Sunday, June 15, 2008

Celengan dan Mainan Baru

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Hari Minggu kemarin akhirnya celengan Daffa kami putuskan untuk dibuka paksa karena sudah terlalu penuh dan sepertinya udah terlalu lama tidak diisi lagi. Pagi-pagi bapak dan daffa sudah asyik membuka celengan pakai pisau karena nggak ada pembuka lainnya. Begitu dilihat ternyata dalaman celengan sudah berkarat dan penuh debu. Ternyata dulu penyebabnya karena Daffa memasukkan tidak hanya uang receh dan uang kertas, tapi juga bedak , kertas-kertas , air , kue-kue (...he.he..kok bisa ), dll. Pelajaran yang didapat adalah mending beli celengan dari plastik dibanding dari alumunium karena bisa karat itu.

Hasil yang didapatkan adalah beberapa puluh ribu uang kertas yang rusak dan penuh dengan bercak-bercak karat. Dan ratusan keping uang receh mulai dari 25 rupiah sampai seribu rupiah yang juga cebagian besar rusak. Masih laku nggak ya..?



Sebenarnya tujuan membuka celengan ini adalah untuk mengajarkan tentang nilai uang yang setelah dikumpulkan/ditabung bisa digunakan untuk membeli barang. Ceritanya sejak minggu lalu Daffa ingin membeli mainan Racing Track beserta mobil-mobilannya. Saat itu kami sedang berbelanja ke Hypermart di Bellanova Sentul dan Daffa sempat melihat demo Racing Track tersebut. Saat itu bapak tidak mengabulkan permintaannya karena dia sudah punya Racing Track dengan model lain meski mobil-mobilannya telah hilang dan alasan lain adalah harganya yang sudah pasti mahal karena dijual di Mall. Lebih baik membeli mainan di Pasar Pagi yang lebih murah.

Selain itu bapak berharap bahwa dengan berjalannya waktu dia akan lupa dengan mainan tersebut. Ternyata setelah seminggu dia masih ingat saja. Akhirnya kami sebagai ortu yang nggak tega. Bapak sempat mencari di Pasar Pagi ternyata harganya rp.145.000 rupiah, rasanya sayang juga mainan seharga itu. Akhirnya kami mencari di Hypermart karena ada promo diskon 50% dan akhirnya dapat juga Racing Track yang dia suka dengan harga lebih murah.

Saat ini kami memang belajar untuk mencoba mengendalikan keinginan Daffa yang selalu ingin membeli mainan. Namanya anak-anak tidak bisa melihat mainan baru meski barang tersebut sudah ada tapi kalau bentuknya sedikit berbeda pasti dia pingin juga.

Monday, June 2, 2008

Peniru

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Mendengar kata peniru, biasanya pikiran langsung berasumsi negatif. Padahal peniru bisa saja merupakan tindakan positif .Terinspirasi oleh salah satu tulisan di blog pak Agus Syafii, saya juga kemudian mencoba menerapkan metode yang dilakukan oleh pak Agus. Istilahnya, saya meniru metode tersebut.

Setiap ada kesempatan bersama Daffa, saya berusaha menunjukkan kasih sayang kepadanya baik berupa kata-kata maupun tindakan. Tindakan seperti pelukan, ciuman ataupun senyum hangat saat berinteraksi sedangkan kata-kata seperti, "Daffa sayang" , Daffa ganteng" ataupun kata-kata lain yang bernada positif. Yang terakhir ini yang saya tiru dari Pak Agus adalah kata-kata seperti "Bapak sayang Daffa" , "Ibu sayang Daffa" ataupun "semua orang sayang sama Daffa".

Malam kemarin, saat hendak tidur, tiba-tiba Daffa memeluk bapak di pinggir tempat tidur dan berkata," Daffa sayang bapak". Saya terharu dan balas memeluk serta berkata, "bapak juga sayang Daffa". Ternyata seorang anak adalah peniru yang baik.

Contoh lain dari sifat peniru Daffa adalah soal pemakaian kuteks. Kebetulan di rumah, lebih banyak wanita dibanding pria sehingga aktifitas ibu, tecu, oma maupun mbak srinya lebih sering dilihat oleh Daffa dibanding aktifitas bapak. Akibatnya, Daffa sering meniru apa-apa yang dilakukan oleh para wanita tersebut seperti memakai kuteks di tangan dan kaki, memakai lotion di tubuh maupun memakai bedak. Kalau dikatakan bahwa semua itu adalah kegiatan wanita sedangkan Daffa adalah seorang pria, maka Daffa akan menjawab : "Daffa kan perempuan". Walah...

Minggu kemarin, kebetulan ibu tukang pijat langganan di bogor bisa dipanggil untuk mengurut/pijat ibu Daffa. Selesai ibu dipijat, giliran Daffa yang dipijat. Lumayan juga lamanya sekitar 1/2 jam. Daffa sampai merem melek saat dipijat itu. Ternyata sambil dipijat tersebut, Daffa juga mengamati cara ibu itu memijat termasuk peralatannya. Selesai Daffa dipijat, tiba-tiba Daffa meminta giliran untuk memijat. Yang jadi "korban" ya bapak menjadi "pasien pijat" Daffa. Ujung-ujungnya ternyata Daffa ingin bermain dengan minyak zaitun yang digunakan untuk memijat. Banyal lagi contoh-contoh lain yang merupakan hasil peniruan yang dilihat dan didengar disekelilingnya.

Pesannya adalah bahwa seorang anak adalah peniru, sehingga sebisa mungkin kami harus memberikan contoh yang baik agar ditiru olehnya.

Sunday, June 1, 2008

Sepeninggal Ungku

Daffa 3 Tahun 7 Bulan

Hari ini telah 9 hari Ungku berpulang, kami dan keluarga masih merasa kehilangan meski telah berusaha ikhlas. Sejak wafatnya Ungku, yang menjadi perhatian kami adalah Daffa. Sejak Daffa lahir, Ungku dan Oma telah bersamanya, membantu kami merawatnya di rumah kami ketika kami berdua bekerja. Kebersamaan Daffa bersama Ungku dan Oma lebih banyak dibandingkan bersama kami orang tuanya.

Ketika Ungku wafat, kami kami khawatir Daffa akan merasa kehilangan karena selama ini, khususnya saat di Bogor, figur Ungku bagi Daffa adalah sangat penting. Bisa dikatakan dimana ada Ungku, disitu pula ada Daffa kecuali saat sholat di mesjid. Para tetangga, kenalan dan handai tolan pun merasa kasihan kepada Daffa karena hubungan yang khusus tersebut.

Saat Ungku sakit di sabtu dinihari itu, Daffa juga ikut terbangun dan meminta ikut ke rumah sakit bahkan sampai mengamuk karena dilarang. Pagi hari saat Ungku di semayamkan dirumah bogor sampai di kebumikan , Daffa sepertinya belum mengerti akan apa yang terjadi. Kalau di tanya , Daffa masih mengatakan bahwa Ungku sakit dan sekarang Ungku ada di pemakaman. Disatu sisi kami cukup lega dengan hal tersebut. Kami menganggap biarlah kami yang merasa kehilangan atas kepergian Ungku dan jangan Daffa.

Saat ini karena kami semua masih berkumpul di rumah bogor maka mungkin perasaan kehilangan Ungku belum terlalu terasa bagi Daffa karena masih ada figur kami orang tuanya. Semoga dengan berjalannya waktu, perasaan kehilangan itu tidak muncul dan Daffa tetap merasa berada di tengah-tengah orang yang dicintainya meski tanpa kehadiran Ungku.

Meski terkadang kami mendengar Daffa membicarakan tentang sakitnya Ungku ataupun telah meninggalnya Ungku seperti hari itu, Daffa berbicara kepada kucing dan menceritakan bahwa Ungku sedang sakit di langit dan minta dibawa ke rumah bogor untuk diobati. Atau sore kemarin ketika langganan sate padang kami lewat dan menyapa Daffa dengan berkaca-kaca, maka Daffa menyambutnya dengan mengatakan bahwa Ungku sedang sakit.

Kami hanya mencoba mengajarkan kepada Daffa bahwa pernah ada Ungku, kakek Daffa yang begitu sayang padanya dan turut serta membesarkan dia dengan kasih sayang. Semoga dengan hal itu, Daffa tetap ingat kepada Ungkunya, tetap sayang dan mendoakan Ungkunya saat besarnya nanti.